HR Competence Management dan Organisasi
Virtual Sebuah Nilai Ekonomis Dalam Manajemen Sumber Daya Manusia Global
Abstraksi
Sri Anugrah Natalina, SE, MM
Dosen Prodi Ekonomi Islam
STAIN Kediri
Globalisasi merupakan perubahan yang terjadi
karena salah satu penyebabnya akibat dari adanya perkembangan teknologi
informasi. Manajemen organisasi harus segera merespon dan memberikan tanggapan
atas perkembangan teknologi, karena perkembangan tersebut juga akan menimbulkan
budaya organisasi yang baru. Permasalahan yang dihadapi oleh organisasi dan
perusahaan atas pengaruh globalisasi adalah dalam segi manajemen sumber daya
manusia adalah ”pengelolaan orang di organisasi dalam konteks internasional”.
Model HR
Competence Management merupakan model manajemen dalam organisasi yang
memfokuskan pada kajian perbaikan pemahaman dari variabel knowledge untuk meningkatkan variabel ability, skill dan attitude
dari SDM yang bersangkutan yang secara komprehensif menjadi unsur-unsur
pembentuk kompetensi SDM yang unggul dan profesional. Hal tersebut
menyebabkan pergeseran paradigma dalam mengelola organisasi yang semula
bersifat resource-based approach
beralih ke competence-based approach.
Dengan semakin cepatnya perkembangan
teknologi informasi maka pembentukan virtual
organisasi dapat menjadi salah satu penggunaan strategis terpenting. Organisasi
virtual adalah organisasi yang menggunakan teknologi informasi yang
menghubungkan banyak orang, organisasi dan aktiva. SDM memainkan peranan kritikal dan esensial karena
disatu sisi merupakan human capital
dan active agent bagi pengembangan
suatu organisasi. Sedangkan di sisi lain merupakan faktor determinan
kapabilitas untuk mengelola sumberdaya organisasi.
Menciptakan SDM yang unggul dan
profesional menjadi keharusan untuk memperbaiki knowledge dari SDM yang bersangkutan Indikasi keberhasilan HR Competence Management dari
keterpaduan model ini akan terlihat pada perilaku individu yang selalu haus
untuk mencari informasi baru, selalu berpikir alternatif dan gemar melakukan
percobaan. Kesemuanya tersebut akan mengindikasikan kompetensi SDM menjadi
lebih baik dari sebelumnya sehingga perpaduan dari kedua model tersebut dapat
menjadi salah satu alternatif yang efektif dan efisien untuk menciptakan SDM
yang unggul dan profesional.
Organisasi virtual biasanya membentuk
aliansi dan kelompok kerja virtual dengan mitra bisnis yang saling berhubungan
melalui internet, intranet dan ekstranet. Jadi organisasi virtual menciptakan
aliansi dan kelompok kerja virtual yang fleksibel. Gabungan teknologi dan
sistem organisasi memberi arti yang lebih banyak dan luas yang menuntut kita
lebih banyak menggunakan waktu dalam ruang maya. Virtual organization diharapkan dapat memberikan perkembangan
kearah yang lebih baik dalam meningkatkan daya saing melalui efisiensi kerja. Inilah dampak era keterbukaan
dan era informasi sehingga HR Competence
Management dan Virtual Organizations
memberikan sebuah nilai ekonomis pada organisasi perusahaan.
Kata Kunci :
Globalisasi, HR Competence Management
dan Virtual Organizations
A.
Pendahuluan
Globalisasi merupakan perubahan yang terjadi karena salah satu
penyebabnya akibat dari adanya perkembangan teknologi informasi. Perubahan yang
terjadi dewasa ini adalah perubahan lingkungan bisnis yang begitu cepat, pesat
dan luas dengan didukung oleh teknologi
informasi yang telah menyusup dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat tradisional
menjadi masyarakat informasi. Sebuah
organisasi akan dapat tetap hidup dan berkembang bila dapat beradaptasi dengan
lingkungan eksternalnya. Akibat yang dapat ditimbulkan oleh perkembangan
globalisasi pada sebuah organisasi adalah tidak dapatnya manajemen organisasi
menetralisir perbedaan dalam lingkungan internal terhadap berubahnya lingkungan
eksternal. Manajemen organisasi harus segera merespon dan memberikan tanggapan
atas perkembangan teknologi, karena perkembangan tersebut juga akan menimbulkan
budaya organisasi yang baru. Manajemen harus sensitif terhadap pengaruh
perkembangan teknologi, yang mencakup informasi, peralatan teknik, dan proses merubah
input menjadi output ( Robin & Barnwell, 1989 ) Selain itu, manajemen
dituntut untuk dapat memahami dengan baik peran sistem informasi ( Elliot, 1992
).Lingkungan bisnis yang dipengaruhi oleh globalisasi berdampak pada banyaknya
perusahaan yang beroperasi melintasi perbatasan negara telah tumbuh secara
eksponensial. Sebagai konsekuensi dari ini, sebagian besar manajer dan karyawan
akan terkena keputusan strategis global dan interaksi lintas budaya. Permasalahan
yang dihadapi oleh organisasi dan perusahaan atas pengaruh globalisasi adalah
dalam segi manajemen sumber daya manusia adalah ”pengelolaan orang di
organisasi dalam konteks internasional”. Dengan kata lain, sejauh mana
pengembangan pengembangan dari strategi bisnis global sejalan dengan pengembangan
kemampuan sumber daya manusia yang diperlukan untuk menerapkan strategi ini.
Banyak perusahaan tampaknya tidak melakukan cukup untuk mempersiapkan manajer
untuk lingkungan bisnis internasional ( Bird and Osland, 2004 ; Lovvorn dan
Chen, 2011 ; Prewitt, Weil and Mc Clure, 2011 )
Manajemen
organisasi harus dapat membuat sebuah kebijakan yang bisa meminimalkan
permasalahan yang ditimbulkan oleh managemen global. Sebuah perusahaan dapat
tetap hidup dan dapat berkembang ditengah globalisasi maka akan memberikan
nilai ekonomis khususnya bagi organisasi itu sendiri. Nilai ekonomis yang
didapat dapat berupa tujuan utama sebuah organisasi perusahaan yaitu
profitabilitas, ekspansi dan eksistensi. Manajemen global merupakan sesuatu
yang harus diikuti dan tidak bisa dibiarkan oleh sebuah organisasi perusahaan.
Oleh karena itu, sebuah perusahaan dapat mencapai profitabilitas, ekspansi dan
eksistensi bila organisasi perusahaan tersebut bisa melebur dengan globalisasi.
B.
Konsep
Manajemen Dalam Manajemen Global
Dalam mengantisipasi perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat,
organisasi perusahaan perlu menciptakan atau mengembangkan suatu pandangan dan
infrastruktur baru bagi organisasi. Organisasi yang aktif adalah organisasi yang selalu terlibat dengan proses
evaluasi tujuan organisasi, secara terus menerus yakni mempertanyakan.
Memferifikasi, dan mendefinisikan kembali cara berinteraksi dengan perubahan
lingkungan. Bagi organisasi yang ingin maju dan berkembang tidak ada alasan
untuk tidak menggunakan teknologi sepanjang hal itu dapat mempermudah
perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. ( Hanscombe, 1989 ).
Dengan adanya perkembangan teknologi informasi, batas-batas yang mendefinisikan
organisasi mulai berubah. Konsekuensinya, muncul berbagai bentuk struktur
organisasi baru yang merespon perubahan lingkungan internal maupun eksternal.
Hal-hal berikut ini adalah berbagai perubahan organisasional yang terjadi
akibat teknologi informasi. Saat ini banyak pekerjaan yang dapat digantikan
oleh teknologi informasi mulai dari manajemen operasional sampai pada manajemen
menengah. Akibatnya perusahaan bisa melakukan downsize organisasi ( penciutan organisasi ). Banyak perusahaan
bertujuan untuk mengembangkan manajer internal ( Suutari, 2002 ). Hal ini hanya
bisa berhasil jika ada kejelasan tentang kriteria untuk seleksi dan / atau
pengembangan para manajer global. Mengembangkan hubungan lintas batas dengan mitra dan pesaing untuk
bersama-sama menyusun strategi baru mengasumsikan ketersediaan kompetensi
tertentu, yang kemungkinan tidak pernah diperlukan sebelumnya. Kompetensi dapat
diartikan sebagai kapasitas potensi individu untuk berhasil menangani situasi
tertentu atau menyelesaikan tugas tertentu atau pekerjaan. Persoalan kebutuhan
memperoleh sumber daya manusia ( SDM ) yang unggul dan profesional yang
diharapkan oleh banyak badan usaha di Indonesia untuk bisa bersaing dalam era
globalisasi seringkali hanya menjadi angan-angan semata. Begitu banyak
kebutuhan dana untuk pengembangan SDM dikeluarkan untuk maksud tersebut namun
seringkali menghasilkan kekecewaan.
Di satu pihak
perusahaan-perusahaan menuntut karyawan untuk bekerja lebih baik dan lebih
efektif, namun disisi lain terkadang perusahaan juga lupa bahwa apa yang
diharapkannya tergantung pada kondisi dan lingkungan kerja dimana karyawan
bekerja ( Marcusse, 1996 ) Tidak dapat dipungkiri bahwa perusahaan menginginkan
produktivitas karyawan yang tinggi, sedangkan di lain pihak karyawan
menginginkan flexsibilitas yang tinggi dari perusahaan. Berkembangnya teknologi
informasi bisa mengakomodasi kedua kepentingan tersebut, sehingga pola kerja
masa depan dengan sendirinya akan berbeda. Hal ini disebabkan oleh pekerjaan
dan tanggung jawab kepentingan pribadi karyawan akan semakin menuntut
konfigurasi baru dan fleksibilitas yang besar. ( Luthan, 1995 ; Economist, Nov,
1995 ). Manajemen dalam organisasi dengan era globalisasi, harus dapat
mengakomodir kepentingan dari perusahaan dan kepentingan dari karyawan agar
tercipta suatu sinkronisasi pola kerja modern yang efektif dan efisien yang
berakibat pada produktivitas kerja dapat maksimal.
Jika sudah merupakan komitmen
perusahaan ingin terlibat dalam kompetensi global dan penguasaan teknologi
adalah satu-satunya yang merupakan strategi bisnis kunci, maka tidak ada jalan
lain bagi perusahaan untuk mengantisipasi bisnis global kecuali menguasai
teknologi informasi dan aplikasinya serta sedapat mungkin hal-hal yang
menimbulkan tantangan dapat dikurangi dengan mendesain sistem informasi yang
tepat, disamping itu manusia sendiri harus menyesuaikan diri dengan
perkembangan yang ada yaitu dengan melaksanakan adaptasi dan mengadopsi
teknologi tersebut. Sikap SDM harus merespon dengan perubahan ini. Jika tidak
maka dengan sendirinya dia akan tergusur dari organisasi perusahaan. Era globalisasi
keahlian yang dituntut bagi seorang manajer yang efektif dan ditempatkan
menjadi prioritas tertinggi adalah kompetensi dan kesenangan menangani
teknologi ( Keen, 1991 ).
Model HR
Competence Management merupakan model manajemen dalam organisasi yang
memfokuskan pada kajian perbaikan pemahaman dari variabel knowledge untuk meningkatkan variabel ability, skill dan attitude
dari SDM yang bersangkutan yang secara komprehensif menjadi unsur-unsur
pembentuk kompetensi SDM yang unggul dan profesional. Pada era globalisasi
seperti sekarang ini, persaingan yang semakin tajam, perubahan teknologi yang
sangat cepat, perubahan lingkungan yang radikal menyebabkan organisasi mau
tidak mau harus melakukan transformasi adatif untuk memperkuat kelangsungan
hidup dan eksistensi sebuah organisasi. Hal tersebut menyebabkan
pergeseran paradigma dalam mengelola organisasi yang semula bersifat resource-based approach beralih ke competence-based approach.
C.
Konsep Teknologi Informasi Dalam Manajemen
Global
Dalam
lingkungan bisnis global yang dinamis saat ini, berdampak bukan hanya diperlukan
perbaikan dan transformasi pada sumber daya manusianya saja akan tetapi juga
bentuk dari organisasinya. Dengan
semakin cepatnya perkembangan teknologi informasi maka pembentukan virtual organisasi dapat menjadi salah
satu penggunaan strategis terpenting. Organisasi virtual adalah organisasi yang
menggunakan teknologi informasi yang menghubungkan banyak orang, organisasi dan
aktiva ( O’Brien, 2005 ) Organisasi ini terus berkembang karena masyarakat
profesional memiliki kebutuhan akan mobilitas yang tinggi dan hubungan
komunikasi yang cepat. Hal
ini menjurus pada terciptanya virtual organisasi yang bertumpu pada azas
kepercayaan dan komunikasi.
Dengan adanya teknologi informasi masuk dalam
sistem yang ada di dalam suatu organisasi maka akan tercipta
peningkatan-peningkatan sebagai berikut :
1.
Performance
( kinerja )
Kinerja dapat diukur dari througtput dan response time. Troughtput
adalah jumlah dari pekerjaan yang dapat dilakukan suatu saat tertentu. Response
time adalah rata-rata waktu yang tertunda diantara dua transaksi atau pekerjaan
ditambah dengan waktu response untuk menanggapi pekerjaan tertentu.
2.
Information
( informasi )
Adanya peningkatan terhadap
kualitas informasi yang disajikan dalam organisasi.
3.
Economy
( ekonomis )
Adanya peningkatan pada
manfaat dan keuntungan serta penurunan atas biaya-biaya yang terjadi.
4.
Control
( pengendalian )
Adanya peningkatan terhadap
pengendalian untuk merndeteksi dan memperbaiki kesalahan serta kecurangan yang
dan akan terjadi.
5.
Eficiency
( efisiensi )
Adanya peningkatan terhadap
efisiensi operasi. Efisiensi berhubungan dengan bagaimana sumber daya yang
digunakan dengan tingkat pemborosan yang paling minimum.
6.
Services
( pelayanan )
Adanya peningkatan terhadap
pelayanan yang diberikan oleh sistem.
Faktor
penentu keberhasilan pengembangan sistem informasi pada organisasi di era
globalisasi adalah sebagai berikut :
1.
SDM,
karena sistem informasi / teknologi informasi diciptakan untuk digunakan oleh
SDM dalam membantu pelaksanaan aktivitas kerjanya, jika SDM tidak kompeten
dalam arti tidak mampu menguasai perkembangan sistem teknologi infortmasi
maupun teknologi komunikasi, maka pengembangan sistem informasi akan sia-sia.
2.
Keterlibatan
dan dukungan penuh dari manajerial dalam proses pengembangan sistem informasi.
3.
Pengembangan
sistem informasi harus compatible,
yaitu antara sistem yang baru dengan sistem yang lama dan antara sistem
organisasi dengan organisasi yang lain harus compatible.
4.
Memperhatikan
aspek keterlibatan pengguna untuk kepentingan organisasi.
D.
Human
Resources Competence Management
Era
informasi seperti yang dikemukakan di atas dapat dijelaskan sebagai suatu
lingkungan global yang menggambarkan adanya proses pertukaran informasi yang
dilakukan dengan teknologi elektronik atau digital dan memicu terjadinya kreasi
nilai (value-creation). Secara lebih
spesifik, pernyataan ini mengindikasikan bahwa aktivitas kerja dalam organisasi
saat ini membutuhkan SDM yang memiliki kompetensi lebih tinggi dan spesifik
terutama berkait dengan kemajuan teknologi digital dalam operasional kerja
sehari-hari. Hal ini, menurut Norman (2001) dan Espejo,et.al (1996),
menyadarkan bahwa organisasi dituntut untuk mengembangkan dan meningkatkan
kompetensi SDM yang adaptif dengan nuansa teknologi digital sehingga mampu
menghasilkan kinerja organisasi mengingat persaingan yang semakin meningkat.
Perkembangan konsep Knowledge Management dalam kenyataan memberi warna baru dalam
khasanah manajemen organisasi terutama dengan tuntutan keberadaan knowledge creation sebagai pemicu dan
pemacu kinerja organisasi. Akibatnya, setiap SDM harus mampu berperan sebagai knowledge workers dan memiliki infosense yang memadai (Devlin, 2001). Dengan
demikian, tuntutan memiliki SDM untuk mempunyai kompetensi dalam menjalankan
peran tersebut menjadi kebutuhan utama bagi organisasi. Persoalan yang muncul
adalah bagaimana percepatan kompetensi SDM yang diharapkan tersebut dapat
diciptakan sejalan dengan pertumbuhan dinamika organisasi dan mampu meminimalkan
terjadinya konflik internal.
Abdullah (2002) mengemukakan
bahwa dalam berbagai kajian teori dan konsep, pada dasarnya manajemen tidak
pernah menawarkan langkah “solusif
universal” melainkan “multiformity”
dalam upaya memecahkan berbagai permasalahan organisasi. Dengan demikian, perlu
disadari bahwa dinamika lingkungan organisasi akan sangat berpengaruh terhadap
proses pengambilan keputusan manajerial, utamanya keputusan strategik.
Pernyataan ini memberikan pemahaman bahwa dalam penerapan manajemen yang efektif
senantiasa bersifat situasional-kondisional, termasuk pula merancang lingkungan
keorganisasian tempat SDM berkiprah. Arus globalisasi yang semakin merebak
bersamaan dengan kemajuan teknologi, dapat dipastikan akan merubah kompleksitas
dan dinamika lingkungan organisasi. Keunggulan komparatif tidak lagi dapat
berperan banyak dan beralih kepada keunggulan kompetitip (competitive advantage). Bahkan badan usaha yang akan eksis dimasa
mendatang harus mampu menciptakan dan mempertahankan core competencies seperti yang dikemukakan oleh Hamel &
Prahalad (1994).
Mempelajari wacana tersebut di
atas, semakin jelas bahwa kompetensi organisasi (organization competencies) menjadi kebutuhan untuk memenangkan
persaingan dan eksistensi bisnis. Secara lebih rinci, maka kompetensi
organisasi terbentuk dari kompetensi sumberdaya yang dimiliki dan salah satu
motor utamanya adalah sumberdaya manusia (SDM). Dengan demikian semakin jelas
bila tingkat kompetensi SDM dapat ditingkatkan dan percepatannya mampu
diciptakan maka kesiapan organisasi untuk bersaing menjadi semakin kuat. SDM
memainkan peranan kritikal dan esensial karena disatu sisi merupakan human capital dan active agent bagi pengembangan suatu organisasi. Sedangkan di sisi
lain merupakan faktor determinan kapabilitas untuk mengelola sumberdaya
organisasi. Hal demikian melahirkan kompetensi yang oleh Hitt et.al (1999) akan
melahirkan kompetensi inti (core
competency) yang diistilahkan lain oleh Hill and Jones (1998) sebagai
kompetensi distingtif (distinctive
competency), yaitu serangkaian kekuatan unik yang memungkinkan suatu
organisasi meraih tingkat efisiensi, kualitas, inovasi ataupun tanggapan
pelanggan, yang kesemuanya mampu menciptakan nilai superior dan keunggulan
bersaing.
Istilah kompetensi SDM dalam
kenyataannya belum ada kesepakatan universal. Beberapa pakar memberikan
definisi yang cukup bervariasi terhadap istilah kompetensi SDM. namu secara
umum istilah kompetensi SDM dapat disimpulkan sebagai “the capability to perform”. Kesimpulan ini mengindikasikan bahwa
kompetensi SDM terdiri dari berbagai variabel. Sanchez et.al (1997) menegaskan
bahwa kompetensi SDM dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang bersifat visible, seperti kompetensi pengetahuan
(knowledge competency) dan kompetensi
keahlian (skill competency) serta
kompetensi yang bersifat invisible
(hidden competency) seperti konsep diri, sifat dan motif yang masuk dalam
kategori sikap (attitude). Sementara
itu Robbins (2000) menegaskan bahwa salah satu bentuk kompetensi SDM yang
merupakan biographical characteristic
adalah kemampuan (ability) yang
terdiri dari intellectual ability dan
physical ability.
Gambar1
The HR
Competence Management Model
![]() |
Secara komprehensif maka kompetensi SDM terdiri dari
empat variabel, yaitu (1) knowledge –
pengetahuan (2) ability – kemampuan,
(3) skill – keahlian/ketrampilan, dan
(4) attitude – sikap. Keempat
variabel kompetensi ini diintegrasikan dalam sebuah model yang disebut sebagai
“HR Competence Management”. Merupakan
model untuk mengimplementasi kan keempat variabel kompetensi secara efektif dan
efisien.
Mendasarkan pada pemahaman konsep dan variabel di atas maka pada gambar 1
dapat dilihat dari model HR Competence
Management. Model tersebut secara sederhana menjelaskan bahwa variabel knowledge menjadi variabel basis atau
fondasi yang memberi pengaruh yang bersifat korelasional kepada variabel ability, skill dan attitude. Dengan kata lain, kualitas knowledge yang dimiliki individu akan membedakan pula kualitas dari
ability, skill dan attitude antara individu satu dan
individu lain. Secara lebih specifik, model ini memberikan gambaran bahwa dalam
proses peningkatan kompetensi SDM, variabel knowledge
menjadi penentu bagi variabel lainnya. Sesuai apa yang dikemukakan oleh
Devlin (2001) bahwa kualitas knowledge
akan menjadi bakal dasar yang harus mampu dipahami dengan benar sehingga tidak
menimbulkan persepsi yang berbeda atau ambiguan. Untuk itulah dalam organisasi
kedepan, para SDM harus dapat berperan sebagai knowledge workers (Rusdiyanto, 2001), yaitu manusia yang memiliki infosense atau sense of information yang tinggi agar dalam pekerjaan sehari-hari
kualitas knowledge akan menjadi
semakin tinggi. SDM yang mampu berperan sebagai knowledge workers akan dengan sendirinya menjadi haus akan
informasi atau knowledge baru dan
akan menggunakan knowledge baru yang
diterima guna mengembangkan ability,
skill dan attitude yang dimiliki.
E.
Virtual
Organizations
Saat lingkungan global
mengalami suatu perubahan yang tidak dapat di prediksi maka virtual organisasi memberikan peluang
pada suatu bisnis. Terdapat lima
nilai penting untuk mendukung terciptanya virtual
organizations secara efektif. Kelima
hal yang membedakan tersebut antara lain ( Tung, 1997 ) :
1.
Teknologi
Informasi, yaitu jaringan informasi yang membentuk perusahaan dan entrepeneur
yang saling berhubungan dan bekerjasama. Kemitraan akan berbasis pada kontak
informasi dan kontak on line elektronik,
menyebabkan kerjasama berlangsung tanpa birokrasi sehingga mempercepat proses
kemitraan bersama.
2.
Kinerja
prima, karena setiap rekanan usaha sudah terseleksi core-competencenya, yaitu
memberikan keunggulan kinerja dan menciptakan tim yang kompak.
3.
Kesempatan
yang lebih baik, karena setiap rekanan usaha tidak permanen, sedikit format dan
lebih mampu memanfaatkan kesempatan yang baik. Perusahaan akan dapat
bersama-sama menentukan pasar spesifik dan konsentrasi penuh dalam proyek
tersebut.
4.
Kepercayaan,
hubungan antar perusahaan menjadikan mereka saling terbuka karena keberhasilan
proyek tergantung pada keterbukaan, kesetiaan dan sikap.
5.
Tanpa
batasan, setiap perusahaan mendefinisikan kembali batas-batas perusahaan.
Pada dasarnya kerangka
organisasi virtual dan kinerja
struktur organisasi yang digunakan berkaitan dengan sumber daya manusia di
dalamnya, struktur dan budaya organisasi. Bentuk organisasi virtual berkembang
setahap demi setahap, dan lahir karena ketidakpastian struktur organisasi yang
digunakan. Perkembangan
organisasi tanpa batas melalui tahapan-tahapan sebagai berikut ( Tung, 1997 ) :
1.
Sentralisasi
dan desentralisasi : sinergi antar organisasi sulit dicapai
2.
Borderless organizations :
menekankan pada cross functional
integration.
3.
Alliances Network : jaringan
kerja ini diharapkan mampu memberikan keuntungan dalam hal kebutuhan modal,
berperan dalam pengembangan strategi global.
4.
Virtual organization : perpanjangan konsep aliansi, yaitu merupakan kumpulan orang atau
organisasi dengan keahlian dibidang masing-masing untuk kerja khusus. Tujuan
utama organisasi virtual adalah kepuasan pelanggan, keuntungan penjual, reaktif
terhadap pesaing.
Sumber kekuatan yang paling
penting saat ini dan yang akan datang adalah ”information processing”. Pertemuan teknologi informasi, komunikasi
dan komputer network. Merombak struktur pasar dan pola pengelolaan organisasi
yang proaktif. Selanjutnya merubah ’the
economic of doing business’ dari mass
production paradigm menjadi mass-customization
paradigm. Davindow dan Malane menyebutkan sebagai ‘ the age of virtual product’ yaitu produk yang tersedia kapan saja,
dimana saja, dalam bentuk yang beraneka ragam, customized, tergantung
permintaan. Goldman dan Nagel menyebutnya sebagai ‘agility based competition’. Virtual
Organization menyebabkan perubahan structural pada pasar yaitu fragmentasi
pasar yang terjadi dalam pola akselerasi yang semakin cepat pada hampir semua
kategori produk menciptakan kompleksitas baru yang mengarah pada penciptaan
nilai yang memenuhi kebutuhan konsumen individu. Jadi kunci keberhasilan
telecommuting, dan virtual organization antara lain adalah ( Goni, 1997 ) :
a.
Kemampuan dan attitude sumber daya manusia
b.
Kepercayaan
c.
Manajer
jarak jauh tidak berbeda manajer di kantor, seorang manajer yang baik harus
dapat menyusun ekspektasi, monitoring progress, memberikan masukan dan
menjalankan pekerjaan manajerial lainnya.
d.
Kemampuan
untuk membagi waktu yang baik dan efisien
Kemampuan telecommuting dan virtual organization tergantung pada peralatan telekomunikasi dan
komputer yang digunakan. Untuk profesional yang sangat mobile ada baiknya mulai melihat peralatan mobile computing ini, yaitu : perangkat keras, perangkat lunak, dan
modem radio.
Teknologi informasi yang
digunakan pada aktivitas penunjang Automated
Office System digunakan untuk membantu aktivitas manajemen dan pelayanan
administrative, seperti penggunaan E-mail,
Voice Mail, Word Processing, Database Management System, dan lainnya. Employye Skill Data Base System digunakan
untuk membantu aktivitas manajemen sumber daya manusia untuk menempatkan dan
menugaskan karyawan pada posisi dan pada proyek-proyek penting. Teknologi ini
dikenal dengan nama system informasi SDM (
Human Resources Information system ). Dampak aplikasi teknologi informasi
berbasis komputer terhadap aktivitas organisasional adalah sebagai berikut :
No
|
Sebelum Munculnya TI
|
Teknologi Informasi
|
Setelah Munculnya TI
|
1
|
Manajer biasanya membuat keputusan
|
Berbagai penunjang pengambilan keputusan ( DSS, Access data base, modeling software )
|
Pengambilan keputusan menjadi bagian setiap orang
|
2
|
Hanya pakar yang bisa menyelesaikan pekerjaan yang kompleks
|
Expert system
|
Seorang generalis bisa menyelesaikan pekerjaan pakar
|
3
|
Informasi hanya bisa muncul di satu tempat pada saat tertentu
|
Database tersebar
|
Informasi bisa dimunculkan secara simultan diberbagai tempat sewaktu
diperlukan
|
4
|
Karyawan lapangan membutuhkan kantor sebagai tempat menerima, menyimpan,
mengakses, dan menstransfer informasi
|
Komunikasi tanpa kabel dan portable komputer
|
Karyawan lapangan bisa mengirim dan menerima informasi secara langsung
|
Dengan adanya perkembangan
teknologi informasi, batas-batas mendefinisikan organisasi mulai berubah.
Konsekuensinya, muncul berbagai bentuk struktur organisasi baru yang merespon
perubahan lingkungan internal maupun eksternal. Hal-hal berikut ini adalah
berbagai perubahan organisasional yang terjadi akibat teknologi informasi :
1.
Erosi
Hierarki – Penciutan Organisasi
Teknologi informasi telah
mengarahkan organisasional ke sesuatu bentuk yang semakin datar dan menciut.
Saat ini banyak pekerjaan yang dapat digantikan oleh teknologi informasi mulai
dari manajemen operasional sampai pada manajemen menengah. Akibatnya perusahaan
bisa melakukan downsize organisasi (
penciutan organisasi ).
2.
Struktur
Virtual Organization
Organisasi Semu ( Virtual Organization ) adalah suatu
organisasi – organisasi yang menggunakan teknologi informasi untuk menghubungkan
SDM dan ide-ide. Organisasi ini menekankan bahwa untuk mencapai suatu keberhasilan
perusahaan harus mampu beradaptasi dan mengeksploitasi berbagai peluang
dengan menyajikan keunggulan kompetensi dan teknologi kelas dunia yang secara
transparan, menciptakan suatu solusi hubungan bisnis dengan pelanggan yang
terintegrasi berdasarkan azas saling percaya ( Goldman,dkk, 1995 ). Organisasi
ini biasanya menggunakan apa yang disebut struktur jaringan / network structure. Struktur jaringan
ini biasanya melibatkan pemasok, pesaing, sub kontraktor, bahkan dengan
kompetitor. Struktur organisasi jaringan mempermudah perusahaan semu fleksibel
dan mampu beradaptasi serta merespon peluang-peluang bisnis yang sangat cepat
berubah ( Cash, 1994 ). Beberapa alasan
orang membentuk organisasi semu ( O’Brien, 1996 ) :
1.
Untuk
berbagi resiko dan insfrastuktur
2.
Untuk
menghubungkan kompetensi inti yang saling melengkapi
3.
Untuk
meningkatkan berbagai fasilitas dan penguasaan pasar
4.
Untuk
mengakses pangsa pasar dan pasar baru atau untuk kepentingan loyalitas pada
pelanggan.
5.
Untuk
melakukan perpindahan dari menjual produk ke usaha menjual solusi.
3.
Virtual Office ( Perkantoran Semu )
Perkantoran semu muncul ketika
orang-orang tidak lagi secara tradisional bekerja pada satu gedung kantor
tetapi mereka bekerja apakah dirumah masing-masing atau ditengah-tengah
perjalanan atau bekerja sambil liburan. Virtual
office bisa disebut telecommuting.
4.
Berkembangnya
Revolusi tanpa kertas
Masuknya teknologi informasi
berupa EDI ( Elektronic Data Interchange
) kedalam perusahaan mengubah pengelolaan bisnis secara dramatis. Melalui EDI
yang menghubungkan perusahaan, pemasok, pelanggan, bahkan competitor, mereka
dapat berkomunikasi secara langsung. Hal ini menimbulkan paperless revolution. Akibat penerapan EDI, beberapa pekerjaan di
eliminasi.
Manfaat TI dapat dirasakan
bila pengguna mampu menguasai dan menerima teknologi yang ada sebagai pendukung
dalam aktivitas kerja mereka. TI dapat bermanfaat bila SDM yang terlibat dalam
organisasi bisa menerima perubahan
melalui penggunaan teknologi yang ada sehingga nilai-nilai yang melekat pada
budaya yang diadopsi yaitu dalam hal ini pemanfaatan teknologi sebagai sistem
pendukung dalam pembuatan keputusan organisasi. Teknologi informasi menciptakan
dunia baru yang kita kenal dengan cyberspace,
yaitu sebuah dunia komunikasi berbasis komputer yang menawarkan realitas baru
berbentuk virtual ( tidak langsung atau tidak nyata ). Hilangnya batas ruang,
waktu di internet / teknologi informasi dapat memberikan manfaat dan juga
menimbulkan ekses negatif yaitu penyalahgunaan teknologi informasi dalam
pengolahan data dan informasi yang dikerjakan secara elektronik.
Penyalanggunaan internet / teknologi informasi pada beberapa aktivitas
organisasi menurut ( Keng, 2002 ) mengenai acceptable
internet user policy yang sebenarnya merupakan pencurian waktu dan sumber
daya. Berikut ini adalah bentuk-bentuk penyalahgunaannya :
Penyalahgunaan Internet di Tempat Kerja ( dalam
organisasi )
Penyalahgunaan internet
|
Berbagai Aktivitasnya
|
Penyalahgunaan E-mail
|
Pengiriman Spam yang bersifat
pelecehan
|
Penggunaan akses yang tidak sah
|
Berbagi password dan akses jaringan tanpa ijin
|
Pelanggaran dan pemalsuan hak cipta
|
Menggunakan software bajakan
|
Download / Upload hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan
|
Menggunakan beberapa program transmisi
hiburan
|
Penggunaan internet untuk hiburan
|
Chatting, online games
|
Kerja sampingan
|
Menggunakan internet untuk bisnis pribadi
|
F.
Penelitian-Penelitian Terdahulu
Hubungan antara investasi teknologi
informasi dan kinerja perusahaan mendapatkan perhatian penting dari para
peneliti untuk mengetahui apakah investasi teknologi informasi membawa dampak
positif terhadap kinerja perusahaan. Riset-riset terdahulu menunjukkan adanya
kontroversi hasil penelitian pada beberapa sektor industri yang berbeda. Well (
1992 ) mengemukakan beberapa kontroversi hasil dari studi tentang hubungan
investasi dibidang teknologi informasi dan kinerja perusahaan. Studi yang
dilakukan Turner ( 1985 ) dan Lucas ( 1985 ) pada sektor perbankan dan
Strassman ( 1985 ) pada sektor jasa menunjukkan tidak adanya hubungan
signifikan antara investasi teknologi informasi dan kinerja perusahaan.
Sebaliknya Bakopoulus ( 1985 ) dan Bender ( 1986 ) menemukan adanya hubungan
signifikan antara investasi TI dan kinerja finansial yang diukur dengan expences over income, return on networth,
dan sales growth.
Dari hasil studi Well ( 1992 )
pada sektor manufactur valve memberikan
beberapa implikasi penting tentang riset lanjutan bahwa :
1.
Investasi
TI sangat luas dan harus dipilah-pilah dalam berbagai tujuan manajemen yang
berbeda-beda apakah untuk tujuan strategik, informasi, ataukah transaksional
2.
Studi
tersebut menggambarkan bahwa semua investasi TI tidak dapat diasumsikan untuk
efektifitas yang seimbang.
3.
Studi tersebut mengidentifikasi perlunya data
historikal atau longitudinal untuk menyesuaikan dengan sirkulasi investasi TI
dan kinerja perusahaan.
Riset Management Information System memfokuskan pada usaha membangun
suatu kerangka kerja untuk mencari solusi
”productivity paradox” yaitu
rendahnya tingkat output yang dihasilkan oleh investasi dibidang TI ( Sircar
et.al, 2000 ). Berbagai penelitian sebelumnya tentang hubungan investasi TI dan
kinerja perusahaan memberikan hasil yang bertentangan. Sircar et. al ( 2000
) mengemukakan bahwa perbedaan hasil
tersebut dipicu oleh masalah perbedaan fokus penelitian dari para peneliti
terdahulu. Kebanyakan peneliti terdahulu memfokuskan pada dampak investasi
terhadap kinerja perusahaan bukan pada produktivitasnya. Produktivitas diukur
dengan efisiensi yaitu output yang diproduksi untuk setiap level input
tertentu. Output perusahaan menunjukkan volume atau nilai barang dan jasa yang
diproduksi dan kemudian dibagi dalam jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Sedangkan
kinerja perusahaan dihitung berdasarkan bermacam-macam ukuran, misalnya : Return on Assets or Investment, market
share, sales growth, sehingga dengan perbedaan indikator yang dipakai
menghasilkan hasil yang berbeda-beda.
G. Kesimpulan
Biaya untuk kegagalan
atau sakit-kinerja adalah tinggi
sehingga bernilai ekonomis. Miskomunikasi,
ketidakpuasan dan hilangnya reputasi dapat merugikan baik
kepada orang-orang eksternal dan internal
organisasi. Saat ini peningkatan jumlah perusahaan transnasional, kerjasama internasional antara individu,
tim, dan organisasi akan menjadi bagian dari praktek sehari-hari
manajer.
Menciptakan SDM yang unggul dan profesional menjadi
keharusan untuk memperbaiki knowledge
dari SDM yang bersangkutan dan seperti yang digambarkan dalam model “HR Competence Management”, peningkatan knowledge akan secara langsung
berpengaruh pada peningkatan ability,
skill dan attitude dari SDM yang
bersangkutan. Indikasi keberhasilan dari keterpaduan model ini akan terlihat
pada perilaku individu yang selalu haus untuk mencari informasi baru, selalu
berpikir alternatif dan gemar melakukan percobaan. Kesemuanya tersebut akan
mengindikasikan kompetensi SDM menjadi lebih baik dari sebelumnya sehingga
perpaduan dari kedua model tersebut dapat menjadi salah satu alternatif yang
efektif dan efisien untuk menciptakan SDM yang unggul dan profesional.
Organisasi virtual biasanya membentuk aliansi dan
kelompok kerja virtual dengan mitra bisnis yang saling berhubungan melalui
internet, intranet dan ekstranet. Perusahaan ini sudah dikelola secara internal
menjadi kelompok-kelompok lintas fungsi dan proses yang dihubungkan dengan
internet. Jadi
organisasi virtual menciptakan aliansi dan kelompok kerja virtual yang
fleksibel. Gabungan teknologi dan sistem organisasi memberi arti yang lebih
banyak dan luas yang menuntut kita lebih banyak menggunakan waktu dalam ruang
maya. Hal ini
mengarahkan kemungkinan bagaimana menjalankan organisasi tanpa pertemuan secara
fisik. Virtual organization
diharapkan dapat memberikan perkembangan kearah yang lebih baik dalam
meningkatkan daya saing melalui efisiensi kerja. Inilah dampak era keterbukaan
dan era informasi sehingga HR Competence
Management dan Virtual Organizations
memberikan sebuah nilai ekonomis pada organisasi perusahaan.
H. Penelitian
Kedepan
Pengembangan instrumen
yang mengukur "kompetensi
manajemen global", akan mendukung
kerjasama transnasional dan meningkatkan efektivitas budaya dan strategis. Masalah pengukuran menimbulkan
pertanyaan-pertanyaan menantang dan solusi yang perlu pertimbangan dalam
penelitian kedepan.
Sebuah model masa depan dalam pendekatan integratif harus
memenuhi persyaratan lain, seperti menawarkan kejelasan dalam tingkat
pengukuran, menggunakan kekakuan akademis untuk mendefinisikan konstruk,
membawa konsistensi dalam kategori karyawan ekspatriat, pemimpin atau manajer
yang dipilih sebagai responden. Untuk memasukkan pengaruh kontekstual budaya,
satu set beragam budaya responden harus dipilih. Selanjutnya, pendekatan
terpadu harus mengambil perspektif dinamis, menawarkan ruang untuk kompetensi
"interaksi" yang meminta untuk pengukuran kuantitatif dan kualitatif.
Strategi pengumpulan data yang paling efektif adalah salah satu yang
menggunakan ukuran ganda dan beberapa metode pengumpulan data (Lee dan Templer,
2003, ).
I. Daftar Pustaka
Abdullah, Ismeth, (2002), Pendekatan Manajemen Industrial Berbasis
Kompetensi Menuju Era Indonesia Baru, Majalah Usahawan No. 4/Th XXXI, April 2002
Betz,
F. (1994). Strategic Technology Management. John Willey & Sons, New York
Bird,
A. and Osland, J.S. (2004), “Global competencies: an introduction”, in Lane,
H.W., Maznevski, M.L., Mendenhall,
M.E. and McNett, J. (Eds), The
Blackwell Handbook of Global Management. A Guide to Managing Complexity,
Blackwell Publishing, Oxford,
pp. 57-80.
Darna, Surya (2002), Transformasi Organisasi Menggunakan Pendekatan 4 R, Majalah Usahawan No. 4/Th XXXI, April
2002
Devlin, Keith, 2001, Infosense: Turning Information into Knowledge,
W.H. Freeman and Company, New York
Espejo R. ; Schuhmann W.; Schwaninger M.; Bilello U.,
(1996), Organization Trans-formational and Learning: A
Cybernetic Approach to Management, McGraw
Hill, New York
Hammel, Gary and Prahalad C.K., 1994, Competing For The
Future, Harvard
Business School
Press
Herrmann, Ned, (1996), The Whole Brain Business Book: Unlocking the
Power of Whole Brain Thinking in Organizations and Individuals, McGraw-Hill, New
York.
Hill, Charles W.L.and Jones Gareth R., 1998, Strategic
Management: An Integrated Approach, fourth editon, Houghton Mifflin
Company.
Hitt, Michael A; Ireland, Duane R., and Hoskisson,
Robert E., 1999, Strategic Management: Competitiveness and Globalization, third
edition, South-Western College Publishing
Joost
Bucker and Erik Poutsma (2010), Global Management Competencies: A
Theoretical Foundation, Journal of
Managerial Psychology, Vol. 25 No. 8,
pp. 829-844
Lee,
C.H. and Templer, K.J. (2003), “Cultural intelligence assessment and
measurement”, in Early, P.C. and Ang, S. (Eds), Cultural Intelligence:
Individual Interactions across Cultures, Stanford Business Books, Stanford, CA,
pp. 185-208.
Lovvorn, Al S. and Jiun-Shiu Chen (2011) Developing a Global Mindset: The Relationship between an
International Assignment and Cultural Intelligence, International Journal of Business and
Social Science, Vol. 2 No. 9 pp. 275 – 283.
Manning,
T.T. (2003), “Leadership across cultures: attachment style influences”, Journal
of Leadership and Organizational Studies, Vol. 9 No. 3, pp. 20-30.
Normann, Richard, 2001, Reforming Business: When The Map Change The
Land Scap, John Wiley & Sons, Inc, New York
O’Brien,
J.(2005). Sistem Informasi Manajemen, Salemba Empat, Jakarta
Prewitt,
James, Richard Weil and Anthony McClure
(2011), Developing Leadership in Global and Multi-cultural Organizations, International
Journal of Business and Social Science, Vol. 2 No. 13 pp. 13-20.
Robbins, Stephen, 2001, Organizational Behavior, ninth
edition, Prentice Hall, New Jersey
Rusdiyanto, Johny, (2001), Human Resource Management (HRM)
in Knowledge-Based Entities, Proceeding Seminar Nasional dan Temu Ilmiah di
UNAIR, 29 September 2001
Rusdiyanto, Johny, (2001), Revitalisasi Konsep Pembelajaran Manajemen
Sumberdaya Manusia (MSDM): Suatu Tinjauan dari Model Kompetensi, Proceeding
dari Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh UNIKA Semarang, 24 –25 Juli 2001
Sanchez et.al, 1997, Competence-Based Strategic Management,
John William & Sons, England
Suutari,
V. (2002), “Global leader development: an emerging agenda”, Career
Development International, Vol. 7, pp. 218-33.
Tung, K.Y. ( 1997 ). Tekanan
TI dan Manajemen Virtual Organization, Manajemen Usahawan Indonesia, No. 1 th
XXVI, Januari, pp.6-9.
